

- 1Dulu kita sering menatap laut di pagi hari,
- 2Menangis bersama tanpa alasan yang pasti.
- 3Sekarang, kita yang seperti itu, takkan bisa kembali lagi.
- 4
- 5Hujan sakura telah berlalu,
- 6Dan angin awal musim panas menyentuh pipiku.
- 7Cincin yang kau berikan,
- 8Masih belum sanggup aku lepaskan.
- 9
- 10Banyak hal yang tak bisa kulepaskan,
- 11Dan itulah yang membuatku terjebak
- 12Dalam bayangan kenangan.
- 13
- 14Semakin sering aku berharap,
- 15Andai semua ini hanya sekadar mimpi,
- 16Kenangan harum yang terbawa angin
- 17Semakin sulit untuk dilepaskan.
- 18
- 19Tanpa alasan yang jelas,
- 20Aku kembali menatap laut di pagi hari,
- 21Teringat masa ketika kita berdua menangis.
- 22Namun, kita takkan bisa kembali ke masa itu.
- 23
- 24Bunga yang mulai layu di depan mataku,
- 25Terasa seolah bisa kuselamatkan
- 26Hanya dengan air mata yang terus mengalir.
- 27
- 28Entah kapan aku mulai menyadari,
- 29Langit biru ini terasa begitu sepi.
- 30Surat darimu masih kusimpan,
- 31Tak pernah bisa kubuang meski terus menyakitkan.
- 32
- 33Aku sudah bilang, kan?
- 34Sebelum semua ini menjadi terlalu berat,
- 35Seharusnya kita buang saja semuanya.
- 36
- 37Tanpa alasan yang jelas,
- 38Aku kembali menatap laut di pagi hari,
- 39Teringat kita yang dulu menangis bersama,
- 40Tapi kini tahu, tak ada jalan untuk kembali.
- 41
- 42Kau selalu seperti itu,
- 43Berpura-pura kuat di depanku,
- 44Tersenyum sambil menahan air mata.
- 45“Aku nggak bisa menangis di depanmu,” katamu.
- 46Aku benci melihatmu seperti itu,
- 47Terlihat kuat tapi seakan menjauh.
- 48Sulit rasanya untuk memaafkan.
- 49Aku, kamu,
- 50Kita berdua,
- 51Memang sudah tak bisa lagi berjalan bersama, kan?
- 52Karena pada akhirnya, aku hanya membuatmu menangis sendirian.
- 53
- 54Mungkin benar, air matakulah yang membuatmu merasa begitu sendiri.
